
Sampai-sampai, mereka rela bergadang di
depan televisi, duduk bersimpuh, diam tak bersuara, khusyu’ memperhatikan,
menonton penari-penari pria dan wanita dan mengikuti dengan seksama sandiwara
atau kuis-kuis siang dan malam. Setiap stasiun televisi menyajikan acaranya,
baik mulai maupun akhir tayangan pada jam-jam yang sepatutnya diisi untuk
ibadah. Mereka sama sekali tidak mempedulikan panggilan Tuhan semesta alam, “Hayya’Alash Shalah” (mari kita sholat) Hayya ‘Alal falah (mari kita menuju kemenangan).”
Pun, tidak menggubris sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam penghulu para
rasul, “Tidak ada samra dan sahra (mengobrol dan
tidak tidur setelah shalat Isya’).”
Mereka meyakini benar semua yang mereka lihat di dalam
tayangan televisi, baik berupa cinta kasih, gejolak rindu, kekejaman,
pemaksaan, pemerkosaan, kebohongan, tipu daya, siksaan, dendam, pencurian,
perampasan, pembunuhan, penyerupaan yang dilakukan wanita, pembangkangan anak
terhadap orang tua, pemutusan hubungan persaudaraan (silaturrahmi),
ketidakacuhan terhadap tamu, penyiaran penyakit malas, kelemahan, percekcokan
yang terjadi antara suami-istri, kebencian satu sama lainnya, melahirkan
semangat yang tercela, menghilangkan semangat yang terpuji, mempengaruhi
syahwat, mengajak untuk memperlihatkan aurat serta berhubungan antara lawan
jenis, mengajak agar terjatuh ke dalam lubang zina dan perbuatan keji dan lain
sebagainya seolah-olah hidup hanya diisi dengan ini dan itu dan seolah-olah
kita diciptakan hanya untuk bermain-main dan bersenang. Seolah-olah kita tidak
mempunyai panutan selain penyanyi si A dan bintang film si B. Kita mengikuti
secara membabi buta dalam setiap sesuatunya, dalam cara berjalan, cara duduk,
sampai pada gaya rambut mereka, jenis rokok yang mereka hisap dan tentang hal
ihwal seni ditanyakan tentang urusan-urusan perasaan mereka ditanyakan, tentang
urusan-urusan perasaan mereka dibahas sehingga mempunyai hari raya waktu dan
tempat kita menghormati dan memperhatikan mereka. Kita memegang
perkataan-perkataan mereka sekalipun perkataan-perkataan mereka itu tak berarti
apa-apa. Hanya karena mereka terkenal, isyarat mereka dengan menunjukan
jari-jari mereka dan kantong-kantong mereka yang berisi penuh dengan uang,
banyak orang yang mengerjakan apa yang mereka perintahkan.
Inilah prinsip-prinsip yang menjadi
pijakan mereka dalam hidup dalam menghabiskan waktu, hanya satu saat waktu
mereka untuk Allah yang Maha Rahman dan banyak dari waktu mereka yang mereka
habiskan dengan syaitan, satu saat untuk Tuhanmu dan banyak saat untuk keinginan
hatimu. Sedangkan hari perhitungan adalah waktu dihalalkannya seribu
kehalallan, Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa
Billah.
Cukup banyaklah kerusakan-kerusakan akibat
seorang muslim yang disebabkan TV dengan menayangkan Symbol-simbol orang-orang
kafir dan lambang-lambang agama-agama yang batil seperti salib, tempat-tempat
ibadah yang disucikan, dewa-dewa cinta, kebaikan dan kejahatan serta dewa-dewa
yang lainnya, menyiarkan akan kemampuan sebagian makhluk untuk menyamai Allah Shubhanahu wa Ta’ala dalam hal menciptakan, mematikan,
menghidupkan, dan qadha-Nya dalam pemahaman orang-orang yang berkuasa dan
orang-orang yang berkuasa dan orang-orang yang menemukan suatu penemuan ke
dalam jiwa-jiwa penonton dan memberikan gambaran hidup bahwasanya ada kesamaan
antara Allah Shubhanahu wa Ta’ala dengan manusia dan
malapetaka yang lainnnya yang tak terhitung banyaknya dan tidak terhitung
bentuknya, Innaa Lillahi Wa Innaa Ilaihi
Raaji’uun.
Perilaku Yang Benar
Televisi ditinjau dari aspek dzatnya tidaklah diharamkan.
Akan tetapi, apa yang ditayangkan di dalamnya lah yang menyebabkan ada
pembatasan dalam kehalallannya atau keharamannya. Dengan berdasarkan itulah,
hukum halal atau haramnya itu ditentukan. Apabila kemudhartannya lebih besar
dari pada manfaatnya, maka haram hukumnya. Sebaliknya jika tidak demikian, maka
hukumnya halal.
Tayangan-tayangan televisi sekarang ini kita dapati,
kejelakan dan kemudharatannya lebih besar dibandingkan dengan kebaikan dan
manfaatnya, lebih banyak racunnya dibandingkan dengan madunya. Oleh karena
itulah bisa dikatakan, lebih baik mematikan televisi ketimbang
menghidupkannnya. Tiadanya TV lebih utama daripada adanya. Keharaman TV bisa
dibandingkan dengan keharaman khamar dan perjudian, dimana keadaan
mudharat keduanya lebih besar dibandingkan dengan manfaat keduanya maka
menjauhkannya dan menghindarinya merupakan bentuk penjagaan diri dari keduanya.
Namun jika televisi itu memang terpaksa harus ada, maka tidak boleh tidak
memakainya hanya untuk keperluan yang diperbolehkan saja dan berhati-hati dalam
menyaksikannya, menyeleksi tontonan yang ada di dalamnya dan menjauhi tontonan
yang haram. Karena dari televisi, anak-anak kita akan berusaha mencoba
kebiasaan yang buruk dan tradisi-tradisi yang memalukan.
Cukup banyak waktu kaum wanita terbuang
cuma-cuma, hanya demi tayangan telenovela dan lainnya di televisi. Jika para
wanita tidak mempergunakan waktunya secara baik, mereka termasuk ke dalam
daftar orang-orang yang berada dalam firman Allah Shubhanahu wa Ta’ala ini;
“Katakanlah, ‘Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang
orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah
sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,sedangkan mereka menyangka bahwa
mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi: 103-104)
Juga mereka telah melanggar larangan
Rasulullah Shalallahu’Alaihi wasallam yang menyatakan, “Tidaklah ada samrah (tidak tidur sambil mengobrol) setelah shalat Isya.” (HR. Muslim)
Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam menganjurkan untuk mengerjakan
shalat fajar dan qiyamul lail.
Allah Shubhanhu wa
Ta’ala berfirman, “Dan periharalah dirimu (dari
adzab yang diberikan) padpa hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan
kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap
apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dianiaya
(dirugikan).” (al-Baqarah: 281)
Oleh karena itulah, Allah Shubhanhu wa Ta’ala telah memberi peringatan kepada kita
tentang dunia dan seisinya dan Allah telah menjelaskan kepada kita, bahwa kita
diciptakan bukanlah untuk bermain-main dan bersenang-senang saja, akan tetapi,
kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya Allah Shubhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka
menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Firman Allah Shubhanahu wa Ta’ala sebagai peringatan,
“Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengaggumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang
keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan ini tidak lain
hanyalah kesesnangan yang menipu.” (Adz-Dzariyat:56)
Firman Allah Shubhanahu wa Ta’ala dalam hadits qudsi-Nya sebagai
anjuran,
“Wahai anak Adam,
curahkanlah semua kemampuanmu unutk beribdah kepada-Ku, maka dadam akan diisi dengan
kecukupan dan akan dipenuhi kekuranganmu. Jika kamu tidak melakuukannya (tidak
beribadah kepadaku).” (HR. At-Tirmidzi)
Sabda Rasulullah sebagai nasihat,”Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain ( shalat subuh dan shalat
Ashar) akan masuk surga.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anha mengisahkan
bahwasanya seorang laki-laki tertimpa kemalauan lalu ia mendatangi Nabi
Shalallahu ‘Alihi Wasallam memberitahukan apa yang menimpanya. Maka Allah Shubhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut ini;
“Dan dirikanlah shalat
itu pada dua tepi siang (pagi dan sore) dan pada bagian permulaan malam (Huud:
114)
Lalu si laki-laki bertanya, “Untukku kah ayat ini?
Beliau menjawab, “Bukan, tapi untuk semua umatku seluruhnya.” (HR. Mutafaq ‘Alaih)
Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda, “Dua rakaat sahalat fajar lebih baik daripada dunia dan semua
isinya.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda, “Allah memberi rahmat-Nya kepada perempuan yang bangun pada malam hari lalu
ia mendirikan shalat dan membangun suaminya, apabila suaminya tidak bangun,
maka ia memercikkan air pada wajah suaminya.” (HR. Abu Daud)
Hadits-hadits di atas menganjurkan untuk
mengerjakan shalat terus-menerus, tetap berusaha keras melaksanakannya, tolong
menolong dalam ketaatan daan dalam beramal saleh bukannya tolong-menolong dalam
perbuatan maksiat dan bergadang tanpa ada tujuan yang berguna. Pada akhirnya,
kalian dicatat sebagai orang-orang selalu berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak dicatat sebagai orang-orang
selalu berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak dicatat
sebagai orang-orang yang lalai kepada Allah.
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan
pandanganya…’” (An-Nur: 31)
“…sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta
pertanggung jawaban” (Al-Isra :36)
Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda,
“Dua nikmat yang seringkali dilupakan oleh manusia yakni nikmat sehat dan
waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
Apabila kamu termasuk orang-orang yang
meniru-niru gaya orang-orang kafir, maka dengarkanlah oleh kalian semua apa
yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam,
“Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan
mereka.” (HR. Ahmad)
Agar hati kalian tidak mati dan mengeras
sesungguhnya Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam telah memberi peringatan
kepada kalian dengan bersabda, “Jauhilah oleh kalian
semua memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat membuat hati mati,
dan sesungguhnya hati yang paling jauh berpaling dari Allah adalah hati yang
keras.” (HR. Ibnu Majah)
Anas Radhiyallahu
‘Anhu meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam berpidato kepada kami
dengan pidato yang isinya terdengar serupa dengan hadits di atas, beliau
bersabda, “Kalau saja kalian tahu apa yang
aku ketahui (tentang teror pada hari akhirat), niscaya kalian akan sedikit
tertawa dan banyak menangis.” Mendengar demikian, para sahabatnya
menutup wajah mereka dan mereka bersuara sengau (karena menahan tangis). (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda, “Setiap sesuatu yang tidak merupakan mengingat Allah adalah lalai dan lupa
kecuali empat perkara; berjalannya seseorang di antara dua tujuan, melatih
kudanya, mencumbui isterinya dan belajar berenang.” (HR. An-Nasa’i)
Wahai wanita-wanita pada yang meletakkan
hadits Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bukan pada tempatnya,
yang berbicara dengan kebenaran namun yang menjadi tujuannya adalah kebatilan,
Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam memang telah bersabda, “Satu saat dan satu saat” , yang dimaksud dengan hadits ini bukanlah
satu saat kafir dan satu saat maksiat, melainkan yang dimaksud dengan hadits
ini tidak lain adalah satu saat ibadah, satu saat ketaatan dalam urusan-urusan
yang diperbolehkan seperti bercumbu rayu dengan pasangannya, bermain dengan
anak-anak, dan memenuhi kebutuhan. Karena hidup itu sesungguhnya hanya untuk
Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana
firman Allah, “Katakanlah sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Apakah kamu beriman dengan sebagian kitab
dan mengingkari sebagian kitab yang lain…” (Al-Baqarah:85)
Janganlah kamu menjadikan hawa nafsu mu
menjadi tuhanmu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah, dan janganlah
kamu mengikuti jejak langkah syaitan karena ia akan membawamu masuk ke dalam
adzab Allah, dan kamu wajib berpegang kepada kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya
Allah aku niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha penyayang.” (Al-Imran: 31)
0 Response to "Ketika Wanita Kecanduan Menonton Televisi"
Post a Comment